Bisnis + Inovasi = Sukses
Itulah tulisan yang terpampang di cover depan salah satu edisi majalah Teknopreneur. Cukup menginspirasi saya pagi ini, sehingga saya ingin kembali melihat hubungan antara ketiga variabel tersebut menggunakan kacamata ekonomi saya.
Ada tiga tingkatan penting dalam bisnis, apabila dilihat dari orientasi produksinya, yaitu resource driven production , market driven production, dan innovation driven production . Resource driven production merupakan tingkat paling awal dari ketiga tingkat tersebut karena di sini produksi hanya berorientasi pada sumberdaya yang tersedia. Ini berarti jika orientasi produksi berada di luar kapabilitas sumberdaya, produksi tidak akan berjalan. Pada tingkatan ini, penggunaan teknologi dapat dikatakan nol karena produsen tidak melakukan pengembangan apapun untuk mencoba mengatasi keterbatasan kapabilitas sumberdaya.
Di tingkat selanjutnya ada market driven production yang sudah menunjukkan adanya penggunaan teknologi oleh produsen untuk dapat memproduksi barang dan jasa kebutuhan pasar yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan pengelolaan sumberdaya secara tradisional. Namun demikian, penggunaan teknologi di tingkat ini masih merupakan hasil permintaan pasar yang berlebih, yang berarti apabila pasar tidak melakukan permintaan yang berlebih, maka penggunaan teknologi juga tidak akan dikembangkan lebih jauh lagi.
Kini kita tiba pada innovation driven production yang menitikberatkan kegiatan produksinya pada inovasi produk. Tingkat ini merupakan tingkatan yang tertinggi karena produsen telah mulai aktif dan mengambil inisiatif secara otonom untuk mengembangkan teknologi demi perbaikan kualitas produk dan kemajuan usahanya. Langkah ini diambil karena iklim persaingan yang semakin ketat (biasanya dikarenakan jumlah produsen yang semakin bertambah di pasar), sehingga para produsen berlomba-lomba untuk menjadikan produknya masing-masing menonjol di pasar agar dapat laku.
Menilik kembali ke saat ini, dimana kepercayaan tentang konsep comparative advantage telah mulai ditinggalkan dan berganti kepada konsep competitive advantadge (karena kelihatannya semua hal telah dapat diatasi dengan teknologi), rasanya inovasi teknologi merupakan harga mati yang harus dibayar oleh produsen agar dapat survive di dalam persaingan.
Jadi, sekali lagi, saya hanya ingin membuktikan kebenaran rumus di atas bahwa untuk mencapai kesuksesan, bisnis dan inovasi (baca: teknologi) memang harus bersinergi.





